Wednesday, January 30, 2019

Ijtihad Teknologi Mark Elliot Zuckerberg

Pendiri Facebook
Mark Elliot Zukerberg, Pendiri Media Sosial Facebook

KOMUNITASNGOPI.comPedang bermata dua itu bernama Facebook. Itu adalah tulisan yang tayang di Komunitas Kopi beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya ingin mengajak Anda menengok kepada Mark Zukerberg.

Sebagai pengguna facebook, Anda tentu tahu Mark Elliot Zuckerberg bukan? Ia anak muda jebolan Universitas Harvard, Cambridge. Dialah pencipta Facebook. Zuckerberg adalah mahasiswa jurusan psikologi, namun memiliki kegemaran mengutak-atik peralatan elektronik atau program komputer.

Sebelum Facebook tercipta, awalnya Zuckerberg membuat program coursematch, sebuah program yang memungkinkan mahasiswa di kelas yang sama bisa melihat daftar teman sekelas. Ia kemudian menciptakan facemash.com. Lewat situs ini, para pengunjung bisa memberi stempel “keren” atau “jelek” foto seorang siswa. Namun naas, gara-gara itu Zuckerberg harus berurusan dengan Badan Administrasi Universitas Harvard. Ia dianggap membobol sistem keamanan komputer kampus, melanggar peraturan privasi di internet, dan melanggar hak cipta.

Kejadian itu tak membuat Zuckerberg gentar. Ia lantas membuat Facebook yang diluncurkan kali pertama pada 4 Februari 2004. Pada awalnya, “Facebook” bernama “The Facebook”, nama yang diambil dari nama lembaran dokumen yang dibagikan kepada pelajar baru di Harvard yang menampilkan profil murid dan karyawan.

Pada peluncuran awal, Facebook masih terbatas untuk mahasiswa Harvard dan sekitarnya. Baru pada 11 September 2006, semua orang dengan alamat email apapun bisa tergabung di Facebook. Anda tahu, dari Facebook itulah, Zuckerberg akhirnya menjadi triliuner muda yang mampu menghimpun harta kekayaan hingga US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27,9 triliun. Luar biasa bukan?

Saya suguhkan ihwal penciptaan Facebook diatas bukan dalam rangka mengajak Anda mengikuti jejak anak muda kewarganegaraan Amerika Serikat itu. Itu terlalu sulit. Yang paling gampang barangkali membayangkan, bahwa dengan uang triliunan rupiah, Anda bisa menikmati apapun saja yang Anda inginkan. Tapi tahukah Anda? Meskipun Zuckerberg seorang triliuner, ia tetap tampil apa adanya seperti pemuda kebanyakan pada umumnya.

Yang ingin saya katakan, Zuckerberg telah menciptakan sebuah kreatifitas mengagumkan di dunia teknologi informasi. Ia telah melakukan “ijtihad teknologi” di tingkat usianya yang masih belia saat itu. Apa yang diciptakan Zuckerberg telah mewarnai laju teknologi komunikasi yang kian melesat pergerakannya, termasuk juga penggunanya.

Dikutip dari laman kompas, pengguna laman media sosial pada tahun 2018 mengalami peningkatan. Hal ini berdasar laporan digital tahunan We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna total mencapai 3 miliar meningkat sebesar 13 %. Dari angka itu, Facebook lah yang mendominasi dengan jumlah pengguna lebih dari 2,17 miliar. Indonesia sendiri menyumbang jumlah terbesar urutan ke-empat pengguna faceebook secara global. Luar biasa bukan?

Terlepas dari fungsi dan tujuan penggunaannya. Facebook memang fenomenal. Ia menyediakan lahan sebebas-bebasnya bagi manusia untuk melakukan apa saja. Dan internet sendiri sebagai produk teknologi informasi mutakhir telah mampu menyedot hasrat dan minat manusia dari berbagai latar belakang sosial untuk terlibat didalamnya. Dengan internet, manusia bisa mendapat segala sesuatu yang sebelumnya pernah dianggap tidak mungkin dalam dunia informasi.

Hidup manusia kian dipermudah. Orang dengan begitu gampangnya mengakses informasi dengan hanya menggerakkan ujung jari. Yang paling mengkhawatirkan dari semua itu adalah jika efek positif kemajuan teknologi tak teraih. Justru tatkala sinar keemasan itu menerpa kehidupan umat manusia. Mata mereka silau. Langkah kaki terpeleset, sebelum akhirnya terjungkal tak berdaya menenggak sisi-sisi gelapnya.

Betapa banyak kisah hitam mencengangkan yang dilakukan orang-orang setelah ber-Facebook ria, termasuk anak-anak generasi milenial. Boleh jadi mereka adalah korban tusukan pedang teknologi informasi. Boleh jadi yang dilakukan mereka salah. Tapi, dibelakang mereka berderet orang-orang yang semestinya paling harus bertanggung jawab.

Siapa saja mereka? Anda tentu lebih bisa menjawabnya(*)

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

3 komentar

Pada artikel ini kita belajar,nekad adalah salah satu kunci sukses

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon