Friday, January 25, 2019

Kopi JOSS: Jangan Omong Saja Su...


DISELA-sela
agenda menuju Ngopi Sengkuni 2019, salah-satu agenda yang wajib tak boleh dilewatkan adalah Ngopi Joss di sebelah utara Stasiun Tugu Yogjakarta, dekat dengan malioboro. Jika lamongan ada Kopi Selir, bojonegoro terkenal dengan Kopi Kothok, maka bagi penikmat kopi yang sedang berada di Yogja, Kopi Joss adalah kuliner kopi yang sungguh sayang jika dilewatkan.

Kopi Joss adalah kopi arang Yogjakarta. Bukan hanya dari cita rasanya, tapi cara penyajiannya juga unik. Sebelum racikan bubuk kopi dan gula yang telah tercampur air panas mendidih itu disuguhkan, dua arang membara yang diambil dari tungku sebelahnya dimasukkan. Tak ayal, bara api yang bertemu dengan seduhan kopi membuat permukaan gelas mengepulkan asap, berbuih dan mengeluarkan bunyi, jossss. Itulah sebabnya, pengunjung kemudian menyebut kopi arang ini dengan sebutan Kopi Joss.
Angkringan Kopi Joss bisa kita temui di sepanjang Jalan Wongsodirdjan, yang merupakan tempat kuliner Kopi. Jika kita melewati jalan ini, beragam sajian khas angkringan ditata di atas bakul pikul yang menjadi daya tarik tempat ini. Salah-satu angkringan legendaris adalah Angkringan Lik Man, yang kabarnya sudah ada sejak tahun 1960. Angkringan Lik Man inilah yang pertama kali memperkenalkan Kopi Joss.

Maka agenda awal Komunitas Ngopi sebelum menyaksikan Pementasan Teater Sengkuni 2019 di Taman Budaya Yogjakarta, Angkringan Lik Man inilah yang menjadi tujuan awal. Berangkat dari Lamongan kurang lebih jam 14.00, perjalanan menuju Yogjakarta diwarnai rinai hujan. Perkiraan kami, selepas isya’ kami sudah tiba di lokasi, beristirahat barang sejenak, lantas menelusuri malam di sepanjang malioboro, ngopi joss di Lik Man, ke alun-alun utara, dengan durasi waktu yang tak mungkin ditentukan.


Nyatanya, perkiraan kami meleset. Hampir tengah malam, rombongan baru tiba di lokasi. Bahkan ketika melewati Jalan Wongsodirdjan yang sempit dengan mobil dan motor yang terpakir di sepanjang jalan, mobil sempat berputar dua kali untuk mencari tempat parkir. Ya, perjalanan ngopi kali ini memang tidak terburu waktu. Sehingga ibarat lensa kamera, kecepatan geraknya slow motion. Beragam peristiwa dipotret dan menjadi bahan perbincangan tak habis-habis.

Meski tengah malam, pengunjung angkringan di sepanjang jalan ini justru kian ramai. Kursi-kursi di depan angkringan penuh. Bahkan trotoar bahu jalan yang digelari tikar-tikar juga penuh dengan orang-orang yang entah dari mana saling memperbincangkan apa saja.

“Piye cak rasane?” tanya saya pada Dian, yang dalam perjalanan siang hingga se petang tadi hampir tak pernah diam.

“Iyo e kak, rasane mantep. Onok keset-kesete, paling areng sing di gawe iki kayu mahoni.” tuturnya berkelakar.

Dalam keadaan kondisi tubuh yang butuh istirahat setelah perjalanan jauh, teman-teman Komunitas Ngopi tampak hikmat ketika berada di Angkringan Kopi Joss ini. Cak Sis yang membawa tongsis mencari angle yang pas untuk mengabadikan setiap momen dalam jepretan kamera. Sedang Cak Edi, yang di sebelahnya ada perempuan-perempuan cantik sedang nge-Joss sempat salah fokus. Satu gelas kopi joss disenggol sehingga isinya tumpah membasahi orang-orang di atasnya.

Esoknya, dalam pementasan teater Sengkuni 2019 di TBY, entah bagaimana ceritanya, sepenggal improvisasi narasi Kopi Joss sempat terlontar dari mulut Katib, tokoh yang senantiasa mendampingi Sengkuni yang diperankan oleh Pak Joko Kamto.

"Joss Kuwi Opo Tho. Joss itu singkatan. Aslinya, Jangan Omong Saja, Suu.."(*)

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

3 komentar

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon