Thursday, January 24, 2019

Kritik Sosial Film Pendek Arek Lamongan Seneng Ngopi

Resensi Film Pendek Arek Lamongan Seneng Ngopi
Film Pendek Arek Lamongan Seneng Ngopi
Lamongan memang terkenal dengan Kota Soto, tapi dalam beberapa tahun terakhir, warung kopi menjamur di mana-mana menghiasi wajah kota kecil di wilayah utara propinsi Jawa Timur ini. Tampilan warung kopi dengan segala ornamennya, juga akses freewifi yang disediakan mengiringi gempita zaman, menjadikan warung kopi tak pernah sepi dari pembeli. Hampir di setiap sudut kota hingga ke pelosok-pelosok desa, pemandangan warung kopi dengan pembeli yang rata-rata anak muda generasi milenial menjadi fenomena mutakhir hari ini.

Sayangnya, ngopi yang sesungguhnya media menggalang kehangatan dan keakraban antar sesama menjadi terkalahkan dengan gempuran teknologi. Betapa tidak, dalam sebuah perkumpulan di warung kopi, yang terjadi justru keringnya komunikasi antara satu dengan yang lain. Tak ada lagi perbincangan silaturrahmi. Yang terjadi adalah manusia-manusia yang sibuk dengan gawainya masing-masing berinteraksi dengan makhluk nun jauh di sana melalui media sosial baik melalui whatsapp, twitter, facebok, dan lain-lain.
Baca Juga: Kopi Joss, Jangan Omong Saja Suu..
Fenomena inilah yang kemudian menggugah kreatifitas sebagaian anak-anak muda Lamongan dengan membuat sebuah film pendek bertajuk Arek Lamongan Seneng Ngopi. Film berdurasi 14 menit yang dibuat oleh Kalkifni itu sepertinya ingin menyampaikan kritik sosial, bahwa budaya ngopi yang hari-hari ini mengalami distorsi akibat serbuan gawai, seyogyanya direkonstruksi ulang agar hikmat kopi dalam membangun kehangatan hubungan kemanusiaan tidak semakin terpinggirkan.

Cerita diawali dengan seorang anak muda pekerja bengkel yang kopinya tinggal ampas, ia kemudian berselancar dengan motor bututnya menyusuri jalanan kota untuk mengunjungi warung kopi. Ketika kopi pesanannya telah siap diantarkan di meja, orang di depannya justru bertanya tentang password wifi kepada penjaga warung. Dari sinilah pertanyaan-pertanyaan mulai bergemuruh di kepala si anak muda. Kalau memang ke warung kopi untuk menikmati wifi, bukankah sudah ada wifi corner yang siap menampung kebutuhan?
Baca Juga: Perjalanan Ngopi Sengkuni 2019
Pada tempat yang lain, juga masih di warung kopi, bahkan si anak muda ini semakin galau menyaksikan segerombolan muda-mudi yang sedang nongkrong di warung kopi dengan pernak-pernik mainan beraneka ragam. Sangat muskil jika mereka membawa mainan itu dari rumah. Artinya, mainan itu sengaja disediakan oleh pemilik warung guna menarik minat pembeli yang menginginkan tempat yang berbeda, walau hanya sekedar sebagai sarana selfie. Walhasil, ritual ngopi menjadi tak hikmat lagi, begitu batin pemuda yang gelisahnya kian menguar.

Di akhir cerita, ia bertemu seorang lelaki paruh baya yang motornya mogok di tengah jalan pada dini hari. Percakapan-percakapan ringan terjalin antar keduanya ketika anak muda itu menawarkan bantuan, lagi-lagi seputar warung kopi. Hingga kemudian, si anak muda ini tak bisa mengelak ketika diajak ngopi pemilik motor sebagai ucapan terima kasih ketika motornya telah nyala kembali. Warung kopi langganan lelaki paruh baya adalah warung kopi tradisional yang tak tersentuh gempita teknologi. Tak ada pernak-pernik warna warni, tak ada akses wifi, yang tampak adalah beberapa kumpulan orang-orang yang bercengkrama satu sama lain khas warung kopi. Justru hal itulah yang membuat kehangatan dan keakraban tetap terjaga dalam kemesraan hubungan kemanusiaan di warung kopi.

Sebagai kritik sosial, kehadiran film pendek ini patut diapresiasi. Setidaknya dalam ending cerita dituturkan, apapun motif dan tujuan ngopi seyogyanya tidak mengalahkan manusia sebagai manusia. Boleh jadi warung kopi adalah sarana menumbuhkan inspirasi untuk melahirkan karya. Tapi siapa yang bisa melarang jika kehadiran seseorang di warung kopi hanyalah sekedar mengikuti trend semata. Maka pernyataan menarik, silahkan tentukan apakah ngopimu penuh makna, atau sekedar buang-buang waktu belaka.(*)

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

5 komentar

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon