Saturday, January 26, 2019

Mendidik Dengan Hati

IBARAT sebuah kertas, seorang anak adalah selembar kertas putih yang siap menerima coretan dan goresan hidup dalam bentuk apapun. Goresan dan coretan tiap kertas pasti berbeda satu satu sama lain, tergantung siapa yang menggores. Artinya, perkembangan pola pikir dan kepribadian anak tentu berbeda satu dengan lainnya.

Banyak hal yang menentukan perbedaan, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah. Pola kehidupan yang dijalani anak, atau bervariasinya peran kehidupan yang dijalankan tentu sangat berpengaruh dalam cara pandang anak-anak terhadap visi dan misi dalam interaksi sosial. Salah satu yang sangat berperan adalah pengalaman mereka di lingkungan sekolah. Sekolah adalah tempat terjadinya interaksi sosial dengan permasalahan kompleks, sebab melibatkan pola kehidupan anak yang berbeda satu sama lain.

Lingkungan sekolah sangat berkaitan dengan pola perilaku dan pemikiran anak terhadap proses kehidupan sehari hari. Hal itulah yang kerapkali menjadi penghalang bagi seorang pendidik dalam menjalankan aktifitas mengajar. Tentu tidak semua orang bisa memahami perilaku dan perkembangan tiap anak, bahkan seorang pendidik profesional sekalipun. Diperlukan kejelian dan ketepatan dalam menentukan solusi yang sesuai dengan pola pemikiran anak, dengan pendekatan personal dari hati ke hati, sehingga bisa menentukan tindakan yang harus dilaksanakan.

Memang, mendidik anak adalah seni yang tidak terlihat, belajarnya setiap saat dengan beragam metode dan cara pendekatan. Maka seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Hal ini berkaitan dengan posisinya yang sangat mulia, yang tetap terikat dengan profesionalitas. Yaitu kebersediaan mengembangkan kompetensi dan ilmu keprofesian dengan beragam tugas yang melekat pada dirinya.

Seperti dikemukakan Rostiyah (2000), bahwa guru harus memahami fungsi dan tugasnya yang tidak hanya sebatas dinding sekolah saja, tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki beberapa tugas. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Saat mendidik, seorang guru harus mampu melakukan pendekatan personal dengan menyentuh perasaan anak didik. Tentunya, pendekatan tersebut harus dilandasi hati yang penuh rasa cinta dan empati. Hati, sebagaimana disinggung dalam Al-Quran adalah segumpal darah sebagai awal mula proses penciptaan manusia. Hati adalah raja. Perannya sangat luar biasa dalam menggerakkan seluruh aktivitas kehidupan manusia. Hati adalah satu titik dalam tubuh yang memberikan perintah menggerakkan berjuta-juta sel anggota tubuh lainnya. Tentunya, potensi itu bisa dimanfaatkan dalam memberikan ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik.

Hati adalah pemimpin spritual yang terdiri dari potensi akal (fu'ad), kesadaran emosi (shadr), dan dorongan (hawa). Hati nurani adalah pusat dari ketiga potensi tersebut. Fu'ad berperan dalam berpikir, menganalisis, berinovasi, dan mengambil keputusan. Shadr berpotensi merasakan suasana emosi (empati), kerja sama dan saling menghormati. Sedangkan Hawa adalah dorongan atau keinginan yang seringkali begitu kuatnya sehingga harus diwaspadai karena kekuatannya mampu melumpuhkan potensi lainnya.

Tak dimungkiri ketika menjalankan tugas, seorang guru seringkali memaksakan anak harus bisa menyerap seluruh pelajaran yang diberikan. Anak harus sesuai dengan apa yang dikehendaki dan diinginkan. Hal itu tentu tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan bahwa kemampuan anak berbeda. Anak adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan bakat-bakat tertentu. Membuat anak didik pintar secara akademik, apalagi sebatas pengetahuan dalam tataran kognitif, tentu bukanlah yang terutama. Dipaksa seperti apapun, menggunakan metode dan model pembelajaran terbaik bagaimanapun, jika anak memang tidak memiliki bekal kecerdasan yang diinginkan tentu akan sia-sia belaka.

Maka, yang terutama adalah menanamkan beragam nilai (transfer of value) kepada anak didik, bukan hanya pengetahuan (transfer of knowledge). Tentu saja hal itu harus dilandasi dengan ketulusan dan teladan yang baik, bukan hanya sekedar melaksanakan kewajiban kerja sebagai konsekuensi gaji yang diperoleh. Yang tidak boleh dilupakan oleh guru adalah doa yang harus selalu dipanjatkan untuk kesuksesan anak didik dalam belajar demi masa depan mereka kelak. Di dalam doa terdapat bukti tawakal seorang manusia kepada Allah Swt. Dalam doa-lah, sebuah harapan dan cita-cita dipanggulkan.

Ibarat kaca bening, jika setiap hari tersapu dengan butiran-butiran debu, terpercik dengan noda-noda hitam, tentu membuat kaca itu menjadi buram dan tidak tembus cahaya. Begitu juga halnya dengan anak didik. Anak adalah kaca bening bercahaya. Namun jika setiap hari anak terkena pengaruh- pengaruh buruk, baik dari lingkungan sekitar, televisi, ataupun pergaulan yang salah dan tidak sehat, maka lambat laun membuat anak menjadi semakin jauh dari keindahan hati, semakin buramnya visi dan misi masa depan mereka.

Maka tugas utama guru adalah membersihkan kaca itu agar menjadi bening kembali. Analoginya sederhana. Ibarat membersihkan kaca hanya dengan tangan, maka noda-noda tak akan bersih dengan sempurna. Kita butuh lap yang digambarkan dengan hati yang tulus, Dibutuhkan juga pembersih kaca berupa doa tulus dari seorang guru. Jika hal itu telah dilakukan, biarkan Allah Swt. bekerja dengan kehendak-Nya. Yakinlah bahwa dengan usaha dan doa, kaca tersebut akan menjadi kembali bening dan siap memantulkan cahaya dari Allah Swt.

Manusia memang tidak sempurna. Selalu ada cara untuk memperbaiki diri agar selalu berbenah. Yang harus dilakukan guru adalah menata hati agar lebih tulus dalam mendidik dan mengajar. Hal ini dibutuhkan karena ada rahasia tersimpan tentang masa depan dalam takdir anak didik. Tugas guru memang berat, penuh dengan tantangan dan batu sandungan, tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Guru adalah pemegang obor dalam perjalanan panjang kemanusiaan. Di belakangnya ada anak-anak yang mengikuti kemanapun guru melangkah. Maka, terangi jiwa anak-anak dengan bekal keimanan, keilmuan, dan karakter yang berkualitas. Anak-anak adalah tunas-tunas bangsa, perlu dipupuk dengan ketulusan layaknya anak-anak sendiri. Kelak, anak-anak itu akan membawa bait-bait doa dan ampunan, tentunya sebuah amal jariyah yang akan selalu mengalir tatkala pak guru sudah tiada. (*)


*)Ahmad Rizanu Alami, biasa dipanggil dengan nama singkat “Aris”. Lahir di Lamongan pada tanggal 30 Juli sekitar 33 tahun yang lalu. Aktif sebagai Sekjen KKG PAI Lamongan dan masuk jajaran pengurus AGPAII Kabupaten Lamongan periode 2016-2021.

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon