Friday, January 25, 2019

Pak Zaki Pergi Ke Australi

Pak Zaki Pergi Ke Australi

Waktu pembelajaran tinggal beberapa menit. Ruang kelas yang tadinya riuh kini tampak hening. Para siswa serius memperhatikan Pak Zaki yang sibuk dengan laptopnya di meja guru.


“Baiklah anak-anak, sekarang waktunya penilaian,” kata Guru Agama Islam itu sambil berjalan ke arah siswa, pandangan matanya beredar ke seluruh ruangan, “Seperti biasa, penilaiannya online. Nanti kalian harus menjawab sejumlah soal di layar. Cara menjawabnya melalui gawai masing-masing. Perlu diperhatikan, satu soal waktunya hanya dua menit. Jadi, kalian harus betul-betul konsentrasi untuk mendapatkan hasil terbaik. Semuanya paham?”

“Paham, Pak,” seluruh siswa mnganggukkan kepala. Tanpa diperintah, mereka bergegas mengeluarkan gawai dari sakunya masing-masing. Di depan kelas, layar proyektor menampilkan sebuah alamat situs. Ada sebuah pin dengan empat digit angka tertulis di bawahnya.

Pak Zaki memang guru yang kreatif. Hampir dalam setiap kegiatan pembelajaran, ia selalu memanfaatkan piranti teknologi. Pak Zaki belajar secara otodidak mengemas materi pembelajaran ke dalam media berbasis powerpoint. Bahkan ketika melakukan penilaian, beliau memanfaatkan jaringan wifi sekolah, seperti kegiatan yang akan dilakukan pada kali ini.

“Sekarang ketik alamat seperti yang tertulis di layar, “ perintah Pak Zaki kemudian, “Saat login, username gunakan nama kalian masing-masing. Pin ketikkan seperti yang tertera di layar. Ingat, pastikan gadget kalian sudah tersambung ke wifi.” tegasnya lagi.

Para siswa mengikuti perintah gurunya itu. Beberapa saat kemudian, layar proyektor menampilkan nama-nama siswa, bergantian satu per satu sesuai dengan kecepatan login. Sampai pada nama terakhir, deretan nama yang awalnya bermunculan itu berhenti sama sekali, pertanda seluruh siswa telah berhasil terhubung dengan akun sang guru.

“Sekarang soal demi soal akan saya tampilkan. Sekali lagi ingat, satu soal hanya dua menit. Jadi kalian harus betul-betul konsentrasi. Silahkan kerjakan mulai dari sekarang!” perintahnya kemudian sambil mengklik sebuah tombol.

Berbarengan dengan itu, soal pertama muncul di layar proyektor. Soal pilihan ganda yang agak panjang itu memaksa para siswa harus betul-betul jeli dalam membaca. Beberapa waktu kemudian, beberapa siswa mulai mengotak-atik gawai, mengetik jawaban yang telah ditemukan. Sementara, tak sedikit yang masih berpikir dengan tatapan mata fokus pada layar.

Begitulah, soal demi soal akhirnya terselesaikan. Ketika waktu mengerjakan telah habis, muncul sebuah tombol dengan tulisan besar, Klik Hasil Penilaian. Sepuluh nama yang memperoleh nilai terbaik tampil di layar ketika tombol itu diklik. Para siswa riuh. Cinta, siswi yang duduk di bangku tengah berada pada urutan di atas.

***

Pak Zaki bersyukur bisa mengajar di sekolah ini. Meski belum genap setahun, tapi ia bisa memberikan warna bagi keberlangsungan pendidikan di tempat tugas yang baru. Dulu ketika masih mengajar di sekolah yang lama, Pak Zaki amat kesulitan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. Jangankan untuk membeli LCD proyektor, bahkan untuk ruang kelas masih sangat kekurangan. Sekolahnya waktu itu adalah sekolah terpencil berada di tengah hutan. Jalan menuju sekolah adalah jalan setapak yang ketika musim penghujan tiba berubah menjadi lautan lumpur yang tak mungkin dilewati dengan sepeda.

Sedangkan sekolahnya sekarang berada di kecamatan kota. Meski bukan sekolah unggulan, tapi infrastruktur sudah memadai. Peserta didik tak asing lagi dengan benda-benda teknologi semacam android, laptop, dan semacamnya.

Dulu, ketika pertama kali menjejakkan kaki di sekolah ini, sempat terjadi perdebatan tentang penggunaan ponsel pintar di sekolah. Banyak guru melarang siswa membawa ponsel ke sekolah. Alasannya ponsel adalah sumber masalah. Betapa banyak perkara di sekolah muncul diawali dari ponsel.

Seorang guru bercerita dalam rapat tentang sebuah kasus di sekolah tetangga. Ada siswa ditangkap polisi gara-gara menyebarkan video porno melalui ponselnya. Yang bikin ngeri, pelaku video porno itu adalah temannya sendiri siswa satu sekolah. Guru itu berkata, apa jadinya jika hal itu terjadi di sekolah ini. Tidakkah reputasi sekolah pasti akan hancur. Maka ia berharap agar penggunaan ponsel dilarang.

“Tapi ponsel kan tetap ponsel.” sergah Pak Zaki ketika itu.

“Maksudnya?”

“Ponsel hanyalah alat. Setiap alat tetap memiliki kemungkinan baik dan buruk. Pedang tak bisa dipersalahkan karena digunakan untuk menebas leher orang. Begitu juga pisau tak usah dipuji-puji karena digunakan untuk mengiris bawang. Maka, yang terutama bukan terletak pada alatnya, tapi bagaimana kita memperlakukan alat itu untuk kemaslahatan hidup manusia.”

“Tapi ini siswa, bukan manusia dewasa seperti kita.”

“Disinilah fungsinya kita, guru mereka,” tukas Pak Zaki,”Alat memang layak diperalat. Yang harus kita lakukan bukan melarang, tapi menanamkan kesadaran bagaimana memberlakukan alat untuk kebaikan hidup. Lagi pula, adakah jaminan ketika ponsel dilarang di sekolah, anak-anak tidak menggunakannya di tempat lain?”

“Lantas bagaimana menurut Pak Zaki?” pungkas Kepala Sekolah.

“Kalau menurut saya, boleh kita menganggap ponsel itu ancaman. Tapi, mari kita ubah ancaman itu menjadi peluang. Banyak sekali aplikasi berbasis android yang bisa digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Jika itu kita manfaatkan, kita pasti akan mendapatkan nilai lebih. Disamping siswa akan lebih tertarik, pembelajaran yang kita lakukan juga akan lebih bermakna.”

***

Berawal dari situlah, Kepala Sekolah kemudian memutuskan siswa tetap diperkenankan membawa ponsel pintar di sekolah. Hanya saja, tetap ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Siswa tidak diperkenankan membuka aplikasi media sosial ketika pembelajaran berlangsung, penggunaan ponsel tetap diarahkan untuk kegiatan pembelajaran. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seminggu sekali diadakan pemeriksaan untuk melihat isi ponsel dan riwayat browser apa saja yang pernah dibuka oleh siswa. Para siswa tentu saja senang. Tanpa diminta, mereka membuat komitmen untuk mematuhi rambu-rambu, meskipun ada beberapa yang kadang melanggar.

Hingga pada sebuah siang yang teduh, kabar menggembirakan itu muncul, Cinta, siswi yang dikenal pendiam itu meraih juara pertama dalam lomba pembuatan game berbasis android. Cinta akan diundang ke propinsi untuk menerima penghargaan dari gubernur.


Tak berselang lama, Pak Zaki menjuarai ajang My Teacher My Hero yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan IT terkemuka di Jakarta. Dalam ajang itu, para peserta diminta mengirimkan karya inovatif pembelajaran dengan membuat sebuah video pendek. Tak disangka, karya Pak Zaki masuk nominasi dan terjaring dalam delapan besar. Atas prestasinya itu, ia akan dikirim ke Australia untuk bertukar pengalaman dengan para guru di negeri kanguru itu.(*)

*)Em. Syuhada’, lahir di Lamongan, 31 Juli 1975. Tulisannya berupa artikel, cerpen, resensi pernah dimuat di Jawa Pos, Duta Masyarakat, Harian Surya, Radar Bojonegoro, dan lain-lain. Aktifitas sehari-harinya sebagai guru di SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan Jawa Timur.

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon