Monday, February 25, 2019

Melirik Model Pendidikan di Finlandia

Melirik Model Pendidikan di Finlandia
Pembelajaran di Finlandia, (sumber foto: fb Diena Syarifa)
Pagi-pagi buka beranda facebook, saya tertarik membaca sebuah status yang dibagikan oleh Pak AH. Burhanudin, guru berprestasi dari Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pak AH, demikian ia akrab dipanggil, yang baru saja menulis buku Media Pembelajaran Sekolah Dasar, sebuah buku yang merangkum pengalamannya dalam membuat media pembelajaran, sehingga berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, membagikan status Diena Syarifa yang menceritakan pendidikan di Finlandia.

Lazim diketahui, sejak memenangi rangking PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2001, memang banyak pihak tertarik untuk mempelajari bagaimana sesungguhnya pendidikan di Finlandia. Apalagi kabarnya, siswa Finlandia mencapai hasil PISA yang paling tinggi tidak melalui bantuan tutor dan pekerjaan rumah tambahan yang seabreg, seperti yang terjadi di Jepang dan kawasan Asia Timur lainnya.

Lantas, bagaimana sesungguhnya model pendidikan di Finlandia?
Baca Juga: Literasi dalam Keluarga
Dikutip dari Teach Like Finland, buku tulisan Timothy D. Walker yang diterjemahkan oleh Fransiskus Wicaksono (Gramedia Widyasarana Indonesia, 2017), bahwa sistem pendidikan di Finlandia memberikan kewenangan luas kepada guru dan sekolah. Guru memiliki otonomi yang luas untuk merancang pembelajaran, asalkan rancangan pembelajaran tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan membantu siswa dalam mencapai kompetensinya. Di Finlandia, ada kebijakan pendidikan nasional yang jelas dan disepakati semua pihak, yang “menetapkan prioritas, nilai-nilai, dan arah utama untuk seluruh sistem”, serta tingginya tanggungjawab profesional.

Guru-guru di Finlandia juga sangat kreatif dan inovatif. Hal ini dipengaruhi oleh proses seleksi sejak dari calon guru dan proses pengembangan profesinya dilakukan dengan baik. Guru Finlandia harus melalui seleksi LPTK sampai level magister (S2) dan menulis thesis yang ketat, serta pelatihan selama 5 tahun. Itulah sebabnya masyarakat begitu percaya kepada para guru untuk menerapkan inovasinya di dalam kelas.  Guru di Finlandia adalah profesi yang sangat dihargai secara sosial dan finansial.

Senada dengan hal di atas, Diena Syarifa juga menceritakan pengalaman yang sama selama ke Finlandia, bahwa kualitas guru di Finlandia sangat terjamin mutunya. Pemerintah Finlandia memberikan penghargaan profesi guru setara dengan profesi dokter, engineer, lawyer. Semua guru harus Master (S2), sedangkan Asisten Guru (S1) berasal dari 10 besar lulusan terbaik di universitas. Di Finlandia, tidak ada sertifikasi dan evaluasi tahunan guru sebagaimana di Indonesia. Kualitas guru dilihat dari kualitas murid yang dihasilkan. Rasio guru dan murid adalah 1:12.

Sedangkan durasi pembelajaran tergolong pendek, lebih memberi ruang berpikir bebas dan kreatif kepada siswa. Untuk SD jam belajarnya 4-5 jam/hari, sedangkan SMP dan SMA jam belajarnya seperti mahasiswa yaitu datang ke sekolah menyesuaikan mata pelajaran yang dipilih. Pengaturan jam belajar di kelas pendek mewajibkan siswa bermain outdoor terkena sinar matahari, meskipun hujan (diberikan alat pelindung hujan). Bermain outdoor hanya dibatalkan jika cuaca badai dengan titik suhu minus. Setiap 45 menit belajar harus break bermain selama 15 menit. Sementara itu break makan siang 45-50 menit.
Baca juga: Tiga Kata Sakti yang Harus Dikenalkan Orang Tua Terhadap Anak
Terkait evaluasi, di Finlandia tidak ada ujian nasional. Yang ada hanyalah ujian untuk tes masuk universitas. Evaluasi mutu siswa ada di masing-masing guru, karena hanya guru yang memahami kemampuan siswa, bukan negara. Lebih jauh, sistem rangking juga tidak dikenal. Filosofinya, semua anak hebat di bidangnya masing-masing. Dalam banyak aktivitas, kelas dibentuk gabungan semisal kelas 1 dengan kelas 2, 3 dan 4, 5 dan 6, dan seterusnya. Tdk ada PR klasikal, PR hanya diberikan untuk siswa yg membutuhkan penekanan khusus. Terkait kematangan mental, usia sekolah SD wajib berusia 7 tahun, kurang dari itu tidak diperbolehkan.

Di Finlandia, tidak ada sekolah unggulan. Semua sekolah negeri memiliki mutu yang sama dengan gratis biaya sekolah, makan siang, transport dan kesehatan. Mendirikan sekolah swasta diperbolehkan, namun persyaratannya sangat ketat. Tersedia juga lembaga pemerintah yg disediakan gratis di setiap “kecamatan” untuk menampung anak-anak usia 13-18 tahun beraktivitas selepas pulang sekolah jika di rumah tidak ada orang tua lantaran bekerja.

Begitulah Finlandia. Yang patut digarisbawahi, keberhasilan sistem tersebut tidak terjadi begitu saja. Sejak tahun 1970 sistem ini mulai dirintis di beberapa sekolah, dan mendapatkan tentangan yang besar baik dari para ahli pendidikan internasional maupun di dalam negeri. Namun setelah berhasil, banyak pihak yang kemudian mempelajarinya dan mengadopsinya. Sayangnya, banyak yang meniru pengalaman Finlandia ini hanya sepotong. Semisal hanya memperpendek jam belajar di sekolah, menghilangkan pekerjaan rumah bagi siswa, memberi istirahat kepada siswa setiap satu jam pelajaran dan sebagainya. Peniruan parsial ini perlu diwaspadai. Sebab, kondisi suatu bangsa berbeda dengan genetikanya masing-masing, yang tentu akan memengaruhi cara belajarnya. (*)

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon