Monday, February 11, 2019

Sekolah Biasa yang Luar Biasa

Sanggar Anak Alam di Nitiprayan Bantul DIY
Sanggar Anak Alam (SALAM) Nitiprayan Bantul DIY
KOMUNITASNGOPI.com - “Pendidikan itu tidak harus sekolah, tapi orang dibilang tidak berpendidikan jika tidak bersekolah. Inilah dosa pertama sekolah!” Itulah kalimat pertama yang dituturkan oleh penulis Buku Sekolah Biasa Saja, Toto Rahardjo, pada suatu ketika dalam acara bedah buku yang ditulisnya. Sekolah Biasa Saja adalah upaya Mas Totok menjelasakan tentang SALAM, Sanggar Anak Alam, sebuah sekolah alam alternatif yang diinisiasinya bersama istrinya di Yogyakarta.

Jika ke Yogjakarta, mampirlah ke Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Bantul Yogyakarta. Di sana kita akan menemui sebuah sekolah yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Ya. SALAM, Sanggar Anak Alam. Tidak seperti sekolah lain, SALAM adalah sekolah biasa-biasa saja, yang proses pendidikannya luar biasa berada di areal persawahan penduduk yang sama sekali tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat sekitarnya.

SALAM merupakan ikhtiyar Mas Totok dalam menjawab permasalahan pendidikan yang kerap menghampiri. Ia meyakini, penyelenggaraan pendidikan tidaklah cukup berada di dalam ruang kelas antara guru dan siswa. Lebih dari itu, diperlukan proses belajar yang secara holistik terbangun relasi dengan orang tua murid dan lingkungan setempat.

Itulah sebabnya SALAM tak 'berjarak' dengan kehidupan sekitar dengan membiarkan siswanya terjun secara langsung dalam kehidupan nyata. Proses belajar yang dilakukan adalah berusaha menemukan nilai-nilai serta pemahaman hidup yang lebih baik. Itulah hakekat dari “Sekolah Kehidupan”. 
“Sekolah itu asal katanya schola, artinya waktu luang. Dulu orang Yunani mengisi waktu luang dengan mengunjungi suatu tempat dan di sana diberi wejangan oleh seorang bijak. Masalahnya, sekolah yang ada saat ini bukan hanya mengalami masalah, bahkan menjadi masalah. Sekolah yang oleh banyak orang diidentikkan dengan pendidikan rupa-rupanya tak selalu merupakan tempat pendidikan. Sebab tak sedikit sekolah yang sejatinya lebih pas disebut perusahaan, dengan guru sebagai pekerjanya,” kata Toto Rahardjo.
Pernyataan itu memang menampar dan tak enak didengar. Tapi memang demikian nyatanya. Banyak sekolah yang meletakkan dirinya tak ubahnya perusahaan, dengan cara berpikir sama seperti mengelola bisnis, mendirikan toko kelontong, dengan harapan bisa menguntungkan secara ekonomi.

"Padahal, mendirikan sekolah itu lebih dekat dengan mengabdi pada kemanusiaan yang posisinya terletak di pelosok kesunyian, " tutur Toto Rahardjo lebih jauh,

Toto Rahardjo adalah seoarang autodidak, menghabiskan masa mudanya sekitar 20 tahun lebih aktif sebagai fasilitator pendidikan kerakyatan (popular education) dan pengorganisasian rakyat terutama di Jawa Tengah, Yogjakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Papua bersama alm. Romo Mangunwijoyo di Kali Code. Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST, Direktur ReaD (Research Education and Dialogue), Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia, pengarah di Indonesian Volunteers for Social Movement (INVOLMENT), pendiri Akademi Kebudayaan Yogja (AKY), juga sebagai salah seorang penggerak utama advokasi hak-hak petani.

Buku setebal 252 halaman ini bukan hanya teori, tapi berisi pemikiran yang sudah menjelma tindakan konkret selama 17 tahun dalam mengelola Sanggar Anak Alam (SALAM)  bersama istri tercinta Sri Wahyaningsih, juga para fasilitator lainnya.

Ketika menemani suaminya dalam sebuah perjalanan acara, Bu Wahya, demikian panggilan akrab istri Mas Totok juga angkat bicara. Menurutnya, salah satu keunikan SALAM adalah menjadikan semua komponen untuk sama-sama saling belajar.

"Di SALAM, guru mengajar itu haram, karena anak adalah mahaguru,” cetus wanita itu.

Lebih lanjut Bu Wahya menuturkan, bahwa ia melihat ada kepentingan-kepentingan jangka panjang pihak luar yang patut diwaspadai dalam pendidikan di negeri ini. Salah satu contoh adalah gerakan mencuci tangan. Menurutnya, mengajarkan hal ini secara propagandis kepada anak Indonesia, merupakan penjauhan anak bangsa dari jati diri dan negerinya.

“Ini bangsa agraris, tapi anak-anak diajari mencuci tangan dengan sabun dengan segitu masif. Secara tak langsung, anak akan tumbuh dengan pemikiran kalau pegang tanah berkotor-kotor itu tidak baik. Ini pendidikan yang menjauhkan anak dari dirinya sendiri,” cetus Wahya.
Buku Sekolah Biasa Saja Karya Toto Rahardjo
SALAM diinisiasi oleh Toto Rahardjo sebagai respon atas ketidakberesan-ketidakberesan paradigma dan sistem pendidikan yang ada. Yang menjadi perhatian awal dalam mengonsep SALAM adalah faktor apa saja yang membuat siswa malas sekolah. Dari sanalah ia kemudian membangun SALAM.

Toto kemudian membeberkan sejarah Ki Hadjar Dewantoro dengan Taman Siswanya. Menurutnya, yang patut digarisbawahi adalah penggunaan kata “Taman” dalam menggambarkan proses penyelenggaraan pendidikan. Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar yang menyenangkan. Kenyataan yang terjadi sekarang, sekolah yang ada dimana-mana itu taman atau penjara?

Lebih lanjut Toto menyayangkan sikap pemerintah yang dari rezim ke rezim tidak pernah memberi harga pantas terhadap prinsip Taman Siswa. Prinsip Taman Siswa sering digembar-gemborkan dalam pidato, namun tak pernah dijadikan indikator penting dalam rencana dan tata laksana pendidikan. Sekolah negeri kita lebih mengacu pada pendidikan Barat, dengan melibas habis bakat dan potensi anak. Anak-anak disuruh mempelajari apa yang tidak mereka butuhkan. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi generasi follower, generasi yang bermental ikut-ikutan.

Untuk itulah, ia melakukan perlawanan dengan SALAM. Di salam, tak ada guru yang mengajar, pun tak ada mata pelajaran. Yang ada adalah laboratorium komunitas belajar dengan penghuninya warga belajar dan fasilitator. Mereka saling belajar dan bekerja sama. Pendidikan di SALAM berbasis riset. Warga belajar memperoleh banyak pelajaran setelah melakukan riset. Riset yang dilakukan merupakan pilihan masing-masing, sesuai minat masing-masing. Dari sebuah riset sederhana, mereka akan memperoleh berbagai bidang pelajaran. Matematika, sains, ilmu sosial, ekonomi, geografi, dan sebagainya.

Semua hal terkait pengelolaan SALAM, proses pendidikannya, dan lain-lain dikupas habis oleh Toto Rahardjo dalam buku ini. (*)

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon