Saturday, February 23, 2019

Tiga Kata Sakti yang Harus dikenalkan Orang Tua Terhadap Anak


Miris membaca berita akhir-akhir ini tentang dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Di saat pemerintah baru saja meluncurkan program penguatan pendidikan karakter melalui Perpres No. 87 Tahun 2017, berbagai peristiwa tak mengenakkan menimpa siswa dan guru di sekolah.

Masih segar di ingatan, seorang siswa di Sampang yang menganiaya gurunya hingga meninggal. Di tempat lain, siswa MTs di Purbalingga menantang Kepala Sekolahnya berkelahi karena tidak mau menerima hukuman terkait ulahnya yang membolos sekolah.

Baru-baru ini yang juga viral di media sosial adalah kasus video siswa melakukan persekusi terhadap gurunya di gresik. Awal persekusi ini karena siswa melawan ketika ditegur merokok di kelas, dan masih banyak lagi berita-berita heboh yang mencoreng dunia pendidikan.

Memang, sudah semestinya jika seorang siswa dididik agar mampu mengendalikan emosi dan menunjukkan perilaku yang baik, baik ketika di rumah maupun di sekolah. Sekolah merupakan sebuah lembaga untuk menimba ilmu dan mengembangkan kepribadian guna terciptanya generasi penerus bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti luhur.

Hal ini sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dewasa ini, penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang berlangsung. Harapan dari penguatan pendidikan karakter adalah terciptanya generasi yang cerdas, berkarakter, dan berbudi pekerti yang baik. Upaya tersebut merupakan ikhtiar menciptakan generasi masa depan, yang pada saatnya nanti tampil sebagai pemimpin negara yang mampu mengayomi dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya.

Untuk itulah, diperlukan usaha dan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah. Peran orang tua sangatlah penting dalam hal ini,  karena keluarga adalah pendidikan pertama dan utama. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berdampak pada pendidikan selanjutnya.

Oleh karenanya, setiap orang tua harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat bergantung kepada pendidikan karakter anak di rumah. Orang tua bisa mulai mengenalkan etika kepada anak sejak dini, terutama saat bersosialisasi dengan teman, orang yang lebih tua, ataupun orang lain yang belum dikenal.

Muhammad Assad dalam bukunya Notes from Qatar 3 menuliskan ada tiga kata sakti yang sering terlupakan  yaitu “maaf”, “tolong”, dan “terimakasih”. Kata-kata tersebut terlihat sederhana, namun memiliki arti yang sangat besar dan berdampak positif bagi siapa saja yang mendengarnya.

Maaf
Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, seperti ungkapan terkenal “nobody’s perfect”. Di sisi Allah SWT, orang yang meminta maaf tulus kepada orang lain akan dilihat oleh-Nya sebagai orang yang rendah hati dan tidak sombong. Kesombongan sering menjadi alasan mengapa tidak mau meminta maaf. Dari sombong karena status sosial, harta, jabatan, pangkat, hingga  karena merasa tidak bersalah.

Meminta maaf dapat menghilangkan rasa sombong karena membuat seseorang bisa menerima keadaan sebagai makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Mengucapkan “maaf” bukan berarti salah, melainkan membawa kemenangan karena mampu menguasai emosi.

Tolong
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, artinya tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, sejak dilahirkan hingga meninggal dunia sekalipun. Sayangnya, sebagian besar orang beranggapan tidak perlu meminta pertolongan, karena orang yang memberi pertolongan tersebut memang sedang mengerjakan kewajibannya. QS. Al-Maidah [5] : 2 menyebutkan: “… dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan….”.

Manusia harus memiliki sifat 3H’s : Honest, Humble and Helpful. It is really true because “honest is the best attitude, Humble is the best approach and Helpful is the best investment.”  Menolong orang lain merupakan investasi, karena bisa saja suatu saat nanti kita yang akan membutuhkan pertolongan orang lain. Bukankah hidup ini seperti roda yang berputar?

Terima Kasih
Terima kasih adalah bentuk rasa syukur manusia kepada Allah Swt. melalui perantara manusia lainnya. Rasa syukur sendiri diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan : ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (Nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim [14] : 7).

Dalam ayat tersebut dijelaskan, siapa saja yang bersyukur akan ditambah nikmat. Sebaliknya, bagi yang ingkar akan mendapat azab. Hubungan dengan sesama manusia juga demikian. Di saat mendapatkan bantuan dari orang lain, mengucapkan terima kasih adalah bentuk penghargaan terhadap segala kebaikan yang telah diberikan. Tentunya hal tersebut menjadi berbeda jika seseorang tak melakukan apapun.

Sebab, alih-alih mengucapkan terima kasih, bahkan ada sebagian orang yang tak menunjukkan respon sama sekali atas pertolongan yang diberikan. Bagi mereka, kata terima kasih sangat sulit untuk diucapkan karena memang membutuhkan ketulusan dari yang mengucapkannya.

Sebenarnya, masih banyak yang dapat diterapkan orang tua dalam pembentukan karakter anak. Untuk itulah, kesediaan orang tua untuk terus belajar mutlak diperlukan. Sebab, pendidikan keluarga adalah peletak pondasi pengembangan pendidikan berikutnya, terutama pendidikan akhlak dan budi pekerti.

Yang tak kalah pentingnya adalah mengenalkan pendidikan agama sejak dini. Dengan memahami ajaran agama secara benar dan mendalam, maka orang tua telah menjalankan sebagian perannya dengan benar dalam mencetak generasi yang toleran terhadap sesama, generasi milenial yang patut dibanggakan. Semoga.(*)

*)Penulis: Mulyati'ah, S.Pd.I, Guru PAI SD Negeri Pasarlegi Lamongan Jawa Timur.

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

2 komentar

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon