Tuesday, March 5, 2019

Konsep ‘Asmaul Husna’: Sebuah Tawaran Alternatif

Pendidikan Karakter dengan Konsep Asmaul Khusnah

Dalam dunia pendidikan, guru memang memiliki fungsi strategis dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di tingkat praktis. Ia yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Itulah sebabnya, guru dalam kondisi bagaimanapun diharapkan terus berusaha untuk meningkatkan kompetensinya. Konsep ‘Asmaul Husna’ dalam Al Qur’an mungkin bisa dijadikan acuan alternatif bagi guru untuk mengembangkan pemikirannya.

Bukan sebuah kebetulan jika sebelum Tuhan meletakkan dirinya sebagai al-Malik (Yang Menguasai, Raja Diraja), al-Qudus (Maha Suci), as-Salam (Penabur Keselamatan), al-Mu’min (Yang Mengamankan), al-Muhaimin (Penjamin Ketentraman), dan seterusnya sampai al-Aziz al-Hakim (Maha Perkasa lagi Bijaksana). Terlebih dahulu Dia berposisi sebagai al-alim al-Ghaibi wa as-Syahadah (Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata). Pada rentangan itu, Tuhan menyatakan dirinya sebagai ar-Rahman ar-Rahim (Maha Pengasih dan Penyayang ) (Al Hasyr: 22-24).

Artinya, sebelum guru memposisikan dirinya sebagai manusia yang ‘menguasai’ permasalahan pendidikan dalam setiap detailnya (al-Malik), manusia suci yang tak memiliki mental hipokrit (al-Qudus), menyelamatkan kehidupan para murid dari kesesatan hidup (as-Salam), yang kehadirannya mengamankan dan menentramkan (al-Mu’min al-Muhaimin), dan seterusnya. Yang pertama kali harus dilakukan adalah kesediaan menimba ilmu supaya bisa sampai pada wilayah al-‘Alim al-Ghaibi wa as-Syahadah (mengetahui yang gaib dan yang nyata). Pada rentangan itu, kesadaran ar-Rahman ar-Rahim (cinta dan kasih sayang) harus senantiasa digelorakan agar pekerjaan yang dilakukan guru menjadi sedemikian bermakna.

Menimba ilmu disini tak hanya dibatasi ketika guru melaksanakan serangkaian pendidikan formal yang mengantarkannya pada profesi keguruan, justru ketika profesi itu telah melekat pada dirinya, prosesi pencarian ilmu harus dilakukan secara terus menerus. Pengertian ‘ghaib’ dalam simbolisasi al-‘Alim al-Ghaibi wa as-Syahadah, tak boleh diartikan sekedar sebagai dunia diluar panca indra sebagaimana dunianya malaikat, jin, iblis, setan, lelembut, dan sejenisnya. Harus ada penafsiran kreatif dalam memahami konteks itu. Ketika seorang guru belum mengetahui secara jelas permasalahan yang menyangkut anak didik, hal itu adalah perkara gaib baginya. Saat guru belum memahami latar belakang kehidupan muridnya secara komprehensif, tentang bagaimana harus memperlakukan dia, jurus apa yang harus digunakan supaya murid bisa memahami penjelasan yang diberikan, hal itu adalah gaib baginya.

Maka, al-‘Alim al-Ghaibi sesungguhnya tawaran mencari ilmu tak habis-habis, keadaan dimana guru menggenggam etos kreatif dengan melakukan perjalanan intelektual terus menerus guna menyingkap hal-hal gaib agar menjadi kenyataan hidup tak terbantahkan. Hal yang tak boleh dilupakan adalah, rasa cinta dan kasih sayang harus terus ditumbuh-suburkan dalam sanubari guru dalam menjalankan profesinya, baik kepada almamater dengan segala aktifitasnya, dan terutama kepada anak didik yang ketercerahan masa depan tergantung di pundaknya. Ketika cinta tak lagi bersemayam dalam jiwa sang guru, jangan harap ia bisa melakukan terobosan kreatif untuk mendongkrak mutu dan kinerjanya.

Dalam kurun waktu yang lampau, Imam Ghazali pernah mengelompokkan manusia menjadi empat jenis berdasar pada mentalitas kepribadiaannya; Manusia yang mengerti dan mengerti bahwa dia mengerti, manusia yang mengerti dan tak mengerti bahwa dia mengerti, manusia yang tidak mengerti dan mengerti bahwa dia tak mengerti, manusia yang tidak mengerti dan tak mengerti bahwa dia tidak mengerti. Dalam konteks ini, tak ada salahnya jika guru bersedia melakukan pemetaan terhadap dirinya sendiri untuk mengukur pada posisi mana dia berada. Dengan mengetahui secara jelas kondisi internal kepribadiannya, guru akan mampu melakukan yang terbaik. Dan tentu saja hal itu akan membawa dampak yang signifikan pada perkembangan pendidikan sekian tahun ke depan. Wallahu a’lam bisshawab?***

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon