Saturday, April 6, 2019

Kisah Sabrang (Noe Letto) Ketika Mencium Hajar Aswad

Kisah Noe Letto saat Umrah dengan Bapaknya

Mencium Hajar Aswad. Barangkali itu adalah keinginan semua orang ketika melaksanakan Ibadah Haji atau Umrah. Sebab, sebagaimana banyak diterangkan dalam hadits, salah satu amalan yang disunnahkan adalah mencium hajar aswad yang terletak di salah satu pojok ka'bah. Itulah sebabnya, beragam cara dilakukan untuk mencium hajar aswad mulai dari berjejalan, saling sikut antar jamaah, saling jegal, hingga memakai jasa calo di sekitar ka'bah.

Hajar aswad memang bukan batu biasa. Ia adalah sebongkah batu yang berasal dari surga. Secara bahasa artinya memang batu hitam. Namun sesungguhnya, hajar aswad asalnya berwarna putih lebih putih dari susu. Dosa-dosa manusia-lah yang menyebabkan batu itu berubah warna menjadi hitam legam. Kelak di hari kiamat, ia akan memberi persaksian kepada siapa saja yang pernah memegang dan menciumnya.

Terkait dengan hajar aswad itulah, sebuah kisah menarik dituturkan oleh Sabrang Mawa Damar Panuluh. Lelaki yang lebih dikenal dengan panggilan Noe Letto itu menceritakan pengalamannya ketika bersama keluarga besarnya melaksanakan umrah, tak terkecuali dengan bapaknya, yaitu Simbah Emha Ainun Nadjib.

Awalnya, sebagaimana jamaah umrah yang lain, Noe juga berkeinginan untuk mencium hajar aswad, demi mengungkapkan cintanya kepada Allah Swt. dan Kanjeng Nabi Muhammad saw. Namun ketika melihat suasana yang sangat tidak kondusif, saling berdesakan, saling jegal menjegal dan sikut menyikut untuk sama-sama memiliki keinginan mencium hajar aswad, Noe akhirnya memilih mundur dan menepi dari jejalan jama'ah.

Noe berpikir, ini mekkah, ini baitullah, sebuah tempat yang sangat mulia. Untuk apa melampiaskan nafsu keinginan mencium hajar aswad demi menuntaskan cinta kepada Allah Swt. dan Nabinya. Sedangkan pada saat bersamaan, cara untuk meloloskan keinginan itu dengan cara menyakiti orang lain, dengan saling jegal, dengan intrik kotor, apalagi melalui calo dengan membayar sejumlah uang. Noe tak sanggup melakukan itu. itulah sebabnya ia pilih undur diri dan menepi dalam sunyi.

Dalam ketermenungan itulah, tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Suara Mbah Nun, yang tak lain bapaknya sendiri.

"Kowe pingin ngambung hajar aswad, to brang?"

"Sakjane pingin, tapi ndelok kahanan koyok ngunu kuwi, yo minggir wae."

"Pingin ora?" Suara bapaknya lagi.

"Yo pingin."

Singkat kata, akhirnya Noe mengikuti bapaknya, diminta menata niat dan melakukan ritual tertentu. Ketika semua sudah siap, Mbah Nun meminta agar Noe berjalan mengikuti di belakangnya.

Ketika mengikuti bapaknya itulah, Noe merasakan sebuah keajaiban yang luar biasa. Betapa tidak. Di tengah berjejalnya jamaah yang melakukan thawaf, Mbah Nun berjalan tegap menuju arah ka'bah tanpa sedikitpun menyibak lautan manusia. Manusia seperti terbelah membentuk jalan lurus. Noe tentu saja dengan begitu gampangnya mengikuti langkah kaki Sang Bapak.

Ketika sampai di depan hajar aswad, barulah Noe merasakan suasana saling berdesakan antar jamaah. Namun entah dari mana, tiba-tiba saja ada seseorang yang berbaju berbeda dengan jamaah pada umumnya, bertanya kepada Noe dengan logat jawanya yang kental.

"Sampun mencium hajar aswad, den?"

"Dereng."

"Monggo ndang diambung." tuturnya sembari melindungi sabrang dari desakan jamaah.

Ketika ritual mencium hajar aswad selesai dilakukan, Sabrang tiba-tiba merasa seperti dicengkiwing dari lautan manusia, diarahkan keluar dari jamaah yang saling berdesakan ingin mencium hajar aswad, hingga sampailah ia di tempat yang aman.

Begitulah kisah yang dituturkan oleh Sabrang ketika melakukan umrah dengan bapaknya. Yang patut digarisbawahi dengan kisah itu menurut Sabrang bukan tentang keajaibannya. Tapi dalam menuntaskan sebuah kebutuhan, seseorang tak boleh terfokus pada satu jalan. Ada jalan lain yang bisa ditempuh, sebagaimana saudara-saudara Yusuf diperintahkan oleh Ayahnya agar ketika menemui Yusuf masuk melalui pintu yang berbeda-beda.(*)

*) Kisah ini dibahasakan ulang dari cerita Sabrang Mawa Damar Panuluh pada acara Padhang Mbulan bersamaan dengan #60th Mbah Nun di Jombang.

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon