Sunday, April 21, 2019

Mengenang Kartini tak Cukup Hanya Melalui Sanggul dan Kebaya

Peringatan Hari Kartini dalam Sebuah Lembaga Pendidikan
Peringatan Hari Kartini dalam Sebuah Lembaga Pendidikan
Tanggal 21 April adalah hari lahir R.A. Kartini. Tanggal itulah yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Kartini yang diperingati setiap tahunnya. Lazim diketahui, tiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini dengan peringatan yang cenderung seragam. Mulai dari lomba beraroma feminisme semacam lomba-lomba memasak, peragaan busana, dan lain-lain.

Tak jarang, di berbagai instansi juga menyemarakkan Hari Kartini dengan instruksi mengenakan busana ala kartini, perempuan khas jawa dengan kebaya dan sanggulnya. Jarang ditemui. peringatan hari kartini disemarakkan dengan mengeksplorasi pemikiran-pemikiran dan semangat perjuangannya.

Lantas, bagaimana sebetulnya pandangan dan perjuangan Kartini sehingga diperingati setiap tahunnya? Apakah memperingati kartini cukup melalui gebyar pakaian dengan dalih melestarikan budaya bangsa?

Pejuang Emansipasi Wanita

Terlepas dari perdebatan soal Kartini dengan emansipasi wanitanya, namun banyak yang menyebut Kartini adalah tokoh gerakan emansipasi wanita. Pemikiran-pemikirannya dapat ditemukan melalui surat-suratnya yang dikumpulkan dalam bukunya yang terkenal Door Duisternis Tot Lieht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. 
Pandangan Pendidikan R.A. Kartini
R.A. Kartini dengan Seluruh Keluarganya
Dilahirkan 21 April 1879 di Kota Jepara, nama lengkap Kartini adalah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Ia memiliki darah keluarga bangsawan, sehingga mendapatkan gelar R.A (Raden Ajeng). Gelar Raden Ajeng dipergunakan sebelum menikah. Setelah menikah, maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu) sesuai dengan tradisi jawa.

Ayahnya seorang bupati jepara bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV.  Sedangkan ibunya M.A. Ngasirah adalah anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini adalah keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI. Bahkan ada yang mengatakan jika keturunan ayahnya berasal dari tlatah kerajaan Majapahit.

Kartini memiliki 10 orang saudara, baik saudara kandung maupun saudara tiri. Ia anak kelima, merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai bangsawan, Kartini berkesempatan  bersekolah karena memperoleh hak mendapatkan pendidikan, berbeda dengan perempuan pada umumnya, meski usia 13 tahun ia harus berhenti karena dipingit.

Di masa lalu, memang tak ada ceritanya kaum perempuan biasa bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Wanita selalu dipingit, tak boleh keluar rumah. Kondisi itulah yang menimbulkan pergolakan batin bagi seorang Kartini. Dalam bukunya. Kartini banyak mengungkapkan keinginannya memperjuangkan kaum perempuan Jawa yang termarginalkan. 

Meski sudah tak lagi sekolah, bukan berarti Kartini berhenti belajar. Ia membuka wawasannya dengan berlangganan surat kabar, majalah, dan membeli buku-buku. Kegelisahannya terhadap adat dan situasi yang membelenggu kaum bumiputra (demikian Kartini selalu menyebut Indonesia dengan istilah Bumiputra) untuk mendapatkan pendidikan layak, ia ungkapkan dalam surat-surat yang dikirimkan kepada temannya di Belanda, Nyonya Abendanon. Dalam salah satu suratnya, Kartini mengutarakan tentang pendidikan sebagai kewajiban yang mulia dan suci.

Pemikiran Kartini tentang Pendidikan

Mengutip tulisan Agus Widiarto, Direktur Center For Historical and Policy Studies (CHIPS) yang dimuat di Koran Republika (19/04/2016), bahwa sebagian besar pemikiran Kartini dipengaruhi oleh realitas sosial di sekitarnya, juga interaksi gagasannya dengan rekan-rekannya di Belanda. Meski demikian, sifat progresif tersebut juga diwarisi dari ayahnya, bahwa pendidikan sebagai instrumen penting kemajuan bangsa dan ilmu pengetahuan adalah pintu kebahagiaan individu dan masyarakat. Hal itu tampaknya begitu membekas dalam diri Kartini.

Sebagai seorang Bupati Jepara, Ayah Kartini menyekolahkan semua anaknya ke sekolah Belanda, Europese Lagere School. Akses dan fasilitas pendidikan yang diperoleh Kartini itulah yang semakin membukakan pandangannya bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan begitu penting bagi kemajuan bangsanya, terutama kaum perempuan.

Dalam usianya yang masih belia, Kartini muda sudah mampu memformulasikan gagasan pendidikan secara filosofis dan sosiologis. Ketika kaumnya sedang terimpit tradisi kolot akibat budaya, dan bangsanya masih terbelenggu oleh rantai kebodohan, ia tuangkan seluruh kegelisahannya itu dalam lembaran surat kepada sahabatnya di Belanda.

Dalam bahasa yang disederhanakan Abendanon sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini seakan-akan mencoba mengubah alam kegelapan yang mengitari bangsanya, dikikis habis melalui pendidikan. Hanya melalui pendidikan, bangsanya akan menuju ke zaman terang benderang.

Lebih jauh tentang pendidikan, Kartini juga memiliki pemikiran mendalam. Ia mengerti, bahwa yang terutama bagi manusia adalah moral. Maka, ia mengkritik perilaku guru yang hanya berfokus pada transfer pengetahuan, sehingga melupakan penanaman budi pekerti. Bukankah pemikiran tersebut kompatibel di zaman ini, dimana pemerintah tak henti-hentinya merumuskan formulasi yang tepat untuk pelaksanaan pendidikan karakter?

Kartini adalah Murid Kiai Sholeh Darat

Kehidupan Kartini memang diliputi kemewahan hidup sebagai kaum bangsawan dan priyayi. Namun sebagai penganut Islam, ia sangat membutuhkan pencerahan agama. Apalagi keluarganya dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang memiliki ketaatan dan ketekunan dalam beragama, serta dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang kemungkinan dipengaruhi oleh idiom islam "minadzulumati ilannuri". Sepertinya, buku tersebut adalah usaha Kartini untuk menerjemahkan wahyu ilahiah terhadap pemaknaan kegelapan sebagai kondisi kekufuran menuju kepada cahaya terang sebagai manifestasi bentuk keimanannya kepada Allah.

Sayangnya, ketika ingin mendalami ajaran islam, Kartini bertemu dengan kebuntuan. Dalam mempelajari al-Qur'an, Kartini hanya belajar mengeja dan membaca tanpa mengetahui Isi kandungan al-Qur’an. Hal tersebut membuatnya hampa. Ia mengatakan, belajar al-Qur’an dengan model semacam itu akan menjadikan umat Islam tak akan mengetahui mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya.

Diungkapkan oleh M. Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo Semarang dalam laman nu.or.id, suatu saat ketika Kartini meminta kepada guru ngajinya agar mengartikan al-Qur’an, justru ia dimarahi. Hal itulah yang membuat Kartini menjadi gelisah dan semakin gelisah.

Maka saat masih berumur 20 tahun, kegelisahan itu ia uangkapkan dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang  tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an tanpa mengerti dengan apa yang dibacanya. Saya anggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Kritik Kartini terhadap pembelajaran agama saat itu merupakan bukti nyata betapa Kartini sangat peduli terhadap kuatnya minat mempelajari isi dan esensi agama seperti yang terkandung dalam al-Qur’an. Jika Kartini menjadi sedemikian penasaran dengan isi al-Qur'an, itu hal yang wajar. Sebab, kala itu belum ada tafsir al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa.

Lanjutan kalimat Kartini dalam suratnya: “Sama halnya ketika kamu mengajari saya membaca buku bahasa Inggris, tanpa kamu terangkan artinya kepada saya. Kalau saya ingin mengenal dan memahami agama saya, saya harus pergi ke negeri Arab untuk belajar bahasa di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?

Kalimat itu jelas menandakan tak berdayanya Kartini dalam memahami bahasa Arab. Kartini dipusingkan dengan bahasa Arab dan dibikin penasaran oleh kitab suci agamanya yang berbahasa Arab. Maka ia rindu negeri Arab untuk belajar bahasa arab di sana. Tapi apakah mungkin? Sebab sebelumnya, harapan ke Belanda dengan bahasa yang telah dikuasainya saja gagal dan digantikan Agus Salim.

Tak ada jalan lain, Kartini menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi al-Qur’an kepadanya. Siapakah dia? Dialah Mbah Sholeh Darat, seorang kiai yang merupakan guru dari pendiri organisasi besar di negeri ini: NU dan Muhammadiyah.

Kisah tentang sosok Raden Ajeng Kartini dilukiskan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) dalam Kitab karangannya, Tafsir Faidlur Rahman. Mbah Sholeh Darat adalah kiai yang telah membuka wawasan dan pemahaman Islam R.A. Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci maknanya dibukakan dengan gamblang oleh Mbah Sholeh Darat sehingga Kartini dapat memahaminya. (*)

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

2 komentar

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon