Saturday, May 25, 2019

Aku Berbelanja, Maka Aku Berlebaran

Artikel Belanja Jelang Lebaran Yani Arifin
Ilustrasi: Discount jelang lebaran di mall-mall
Pada tiap bulan Ramadan terdapat fenomena menarik, yaitu menjamurnya pasar tiban (dadakan) diberbagai daerah. Pasar-pasar tersebut menyediakan berbagai macam makanan siap saji hingga menyediakan berbagai macam model busana. Tidak hanya itu, pusat-pusat perbelanjaan seperti mal-mal serta toko-toko menabuh genderang perang diskon. Mereka memasang spanduk besar yang berisi tawaran berbagai produk baru serta diskon habisan-habisan. Singkatnya, bulan ramadan dan hari lebaran telah berubah menjadi bulan komersialisasi.

Menjelang lebaran, umat muslim secara mendadak seperti terjangkit wabah penyakit konsumtif. Dalam bulan Ramadan mereka rela menghabiskan tabungannya untuk memburu barang belanjaan. Melalui bahasa lain dapat dikatakan, konsumsi pada bulan Ramadan mengalami bergesaran dari konsumsi barang-barang kebutuhan primer dan mendesak, beralih ke konsumsi pada simbol-simbol. Kalau dihari-hari biasa, boleh jadi saat membeli masih menggunakan pertimbangan kebutuhan pokok, seperti membelikan buku sekolah untuk anak-anak, atau membeli beras untuk bersedian satu bulan kedepan.

Namun sebaliknya, ketika memasuki Ramadan dan terutama menjelang lebaran, logika efisensi telah hilang dari memori kebanyakan umat Islam. Apa yang kita pakai haruslah serba baru, makanan yang kita sediakan pada saat berbuka, lebih-lebih pada saat lebaran haruslah serba lengkap meski kadang tidak dibutuhkan. Karena dari proses membeli tersebut kaum muslimin menemukan 'identitas" bahwa kita seorang muslim yang sedang berlebaran. Adagium Descartes "aku berpikir, maka aku ada", telah berganti menjadi “aku berbelanja, maka aku berlebaran”.

Asumsi bahwa lebaran adalah suatu yang istimewa dan harus ditampilkan dengan berbagai makanan lezat dan pakian baru, merupakan asumsi yang tidak bisa dibenarkan. Namun terlanjur memasung alam bawah sadar masyarakat Islam pada umumnya. Banyak faktor yang ikut andil membentuk asumsi tersebut. Pada era modern ini, iklan setidaknya bisa dimasukan sebagai salah satu faktor yang cukup dominan. Dalam bahasa yang lebih canggih membicarakan wacana yang ada di masyarakat. Meniscayakan membicarakan reproduksi citra atau imege. Penyajian citra mengatasi adanya suatu kenyataan. Bahkan dengan bahasa yang lebih ekstrim dapat diaktakan "yang riil atau yang dipresentasikan" itu bisa jadi tidak ada. Jika dahulu Karl Marx mendefinisikan "sejarah sebagai pertarungan kelas", maka sekarang sejarah adalah pertarungan wacana.

Dalam dunia konsumerisme hidup kita mengalami proses pengindaan atau estetikasi. Televisi, iklan, dan majalah ikut andil membuat hidup disekeliling indah belaka. Artinya realitas yang ada disekitar kita sangat ditentukan oleh bahasa iklan. Karena bahasa adalah cara manusia mengubah dan memberi bentuk pada realitas agar realitas itu bisa dipahami. Dari model pakaian sampai makanan, kita harus susah payah memgadopsinya melalui bimbingan iklan. Padahal sebagai seorang muslim kita mempunyai seabrek aturan hidup yang mengajarkan kesedarhanaan dan rendah hati, dilain pihak kita sering mendo-mendo (Jawa: menyerupai) guna menjaga apa yang disebut sebagai menjaga image.

Sifat menjaga image atau mendo-mendo akan terlihat secara telanjang disaat menjelang lebaran. Masyarakat hilir mudik ke pasar, toko ataupun mal untuk berbelanja kebutuhan Lebaran. Membeli sudah tidak mempertimbangkan secara rasional ukuran-ukuran ekonomi dan nilai tepat guna barang yang dibeli. Lebih jauh, ada semacam demensi yang sifatnya emosional dalam urusan membeli dan mengkonsumsi sesuatu barang. Intinya, jika telah mampu membeli berarti telah melaksanakan lebaran secara sempurna. Begitu sebaliknya, bila pada saat lebaran tidak mampu membeli dan berbelanja, konsekuwensinya lebaran menjadi suram dan tidak sempurna.

Menghayati Puasa

Tentunya sangat ironi, ditengah-tengah kaum muslimin berusaha meningkatkan amal ibadah dibulan Ramadlan, mereka terjebak dalam lubang konsumerisme. Padahal seharusnya di bulan ini setiap muslim sebisa mungkin mencoba mengadopsi sifat-sifat yang ada pada Tuhan. seperti bahwa Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan (Q.S 6: 14), melalui sifat tersebut kita dididik menjadi manusia yang ringan tangan atas kesusahan orang lain. Tuhan tidak memiliki teman wanita (istri) (Q.S 6:101), ayat ini memberikan ajaran agar kita mengendalikan hawa nafsu.

Alasan diutamakannya kedua sifat di atas untuk diteladani, sebab keduanya termasuk dari kebutuhan Fa'ali (makan, minum, dan hubungan seksual) manusia. Dari segi teologis, puasa sendiri merupakan anjuran mengendalikan diri berkaitan dengan kebutuhan-kebutahan fa'ali. Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Tuhan lainnya, harus terus diusahakan untuk dihayati esensinya. Selanjutnya diteladani sesuai kemampuan kita sebagai manusia. Dengan meneladani sifat-sifat Tuhan berati kita siap membangun tatanan kehidupan yang penuh dengan keamanan dan kedamain.

Upaya Prefentif

Kini, lebaran akan tiba sebentar lagi. Sudah dapat dipastikan iklan di media cetak dan media elektronik akan semakin gencar mempromosikan barang dan jasa dengan kemasan yang sesuai dengan even lebaran. Pada titik ini, khalayak sebagai mana ungkapan Dervin dalam Mass Communication, dianggap sebagai kepala kosong yang siap menampung seluruh pesan komunikasi yang dicurahkan kepadanya.

Sudah saatnya dengan berbekal pesan yang terdapat di bulan Ramadan, kita harus mampu menyaring iklan yang ada. Kita bukanlah sebongkah tanah liat yang bisa dibentuk sesuka hati oleh proganda iklan. Perlu diperhatiakan bagi orang yang berpuasa adalah sabda Nabi, ”banyak diantara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga".

Pada konteks ini, menahan lapar dan dahaga bukan merupakan tujuan puasa, tapi esensi tujuan puasa adalah ketaqwaan. Taqwa yang dimaksud adalah menjalankan segalah perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Bahkan kalau mampu kita harus bisa melaksanakan puasa sebagaiman diajarkan kaum sufi yaitu puasa lahir dan batin. Dalam arti, kita harus menghilangkan perasaan, pikiran dan kehendak hati yang mengajak kepada dosa dan kemungkaran.

Bila seseorang betul-betul bisa dan mampu mengamalkan puasa sesuai ajaran agama serta menghayati sebagaimana petunjuk kaum sufi. Tidak mustahil akan berhasil membendung bujuk rayu iklan dalam menawarkan berbagi produk dan jasanya. Akhirnya laisa al-Id Liman Labisa al-Jadid Walakin al-Id Liman Thaatuhu Tazid. (lebaran bukanlah diukur dengan baju baru, namun lebaran adalah bagi mereka yang benar-benar mengalami perubahan ke arah yang lebih baik).

Penulis :Yani Arifin Sholikin, pemerhati masalah sosial dan keagamaan tinggal di Jombang Jawa Timur

Komunitas Ngopi

Jika ingin bermimpi, tidurlah. Tapi ketika ingin mewujudkan mimpi, bangunlah selagi asap kopi masih mengepul. Tabik!

Berkomentarlah yang baik dengan menggunakan bahasa yang sopan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak pantas dan menyinggung.

Salam
EmoticonEmoticon